Advertise

 
Showing posts sorted by relevance for query euro. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query euro. Sort by date Show all posts
Monday, 8 July 2013

Aktifitas Ekspor Impor Jerman Turun Pada Bulan Mei

0 komentar
Aktifitas Ekspor Impor Jerman Turun Pada Bulan Mei[NMForex] Financeroll - Sebuah laporan resmi di hari Senin(8/7), menunjukkan bahwa aktifitas ekspor impor Jerman telah alami penurunan pada bulan Mei 2013.

Pada laporan yang ditunjukkan oleh Kantor Statistik Nasional, untuk sektor barang ekspor Jerman telah turun sebesar 4.8% di bulan Mei 2013 menjadi 88.2 milyar euro, sedangkan pada bulan April 2013 lalu, sektor barang ekspor Jerman telah turun dari 2.4% di bulan April 2013 dan dilanjutkan dengan aktifitas sektor impor Jerman yang turun sebesar 2.6% berjumlah 75.2 milyar euro pada bulan Mei, setelah naik sebesar 1.7% pada bulan April 2013 lalu.

Sementara itu, pada neraca perdagangan asing menunjukkan surplus sebesar 13.1 milyar euro pada bulan Mei 2013, jika dibandingkan pada tahun 2012 lalu, neraca perdagangan telah surplus sebesar 15.6 milyar euro. Pada kalender dan jangka yang disesuaikan secara musiman, neraca perdagangan asing di wilayah Eropa telah mencatat surplus sebesar 14.1 milyar euro di bulan Mei 2013.

Menurut hasil pengawasan dari Bank Sentral Jerman, kondisi neraca saat ini menunjukkan surplus sebesar 11.2 milyar di bulan Mei 2013, yang mana termasuk pada neraca pada sektor jasa -0.4 milyar euro, laba bersih +1.6 milyar euro, pengiriman saat ini -2.1 milyar euro, dan barang dagangan tambahan -1.0 milyar euro.

Paska dirilisnya data tersebut, euro menguat terhadap dolar AS, dengan pasangan EUR/USD diperdagangkan di level 1.2830 pukul 14:10 waktu Jakarta.
Sugeng Riyadi 08 Jul, 2013

-
Source: http://financeroll.co.id/news/78712/aktifitas-ekspor-impor-jerman-turun-pada-bulan-mei
Read more...
Monday, 1 July 2013

Markit: Manufaktur PMI Zona Euro Naik Pada Bulan Juni

0 komentar
Markit: Manufaktur PMI Zona Euro Naik Pada Bulan JuniFinanceroll - Sebuah laporan yang dirilis pada hari Senin(1/7), untuk sektor manufaktur zona euro telah bergerak mendekati stabilisasi pada kuartal ke dua di tahun 2013 ini.

Markit Economics yang berbasis di London pada hari ini melaporkan, bahwa hasil akhir Manufaktur PMI zona euro naik menjadi 48.8 di bulan Juni, dari 48.3 di bulan Mei, dimana hasil tersebut telah di atas perkiraan ekonom sebesar 48.7 pada 20 Juni lalu. Apabila hasil di bawah angka 50, hal tersebut menandakan kontraksi.

Pada hasil data PMI hari ini, merupakan kelanjutan dari laporan kepercayaan ekonomi zona euro pada bulan Juni 2013, yang mana mecatat kenaikan tertinggi sejak Juli 2010.

Paska dirilisnya data manufaktur PMI zona euro, euro telah menguat terhadap dolar AS, dengan diperdagangkan di level 1.3045 pada pukul 15:25 waktu Jakarta.
Aditya Arief 01 Jul, 2013

-
Source: http://financeroll.co.id/news/78057/markit-manufaktur-pmi-zona-euro-naik-pada-bulan-juni
Read more...
Wednesday, 26 June 2013

Rabu Sore, Rupiah Ditutup Melemah di Level Rp 9.930 / USD

0 komentar
Rabu Sore, Rupiah Ditutup Melemah di Level Rp 9.930 / USDFinanceroll - Pergerakan nilai tukar  rupiah terhadap dolar AS di pasar spot valas antar bank Jakarta, Rabu (26/6) ditutup melemah 20 poin (0,201%) ke posisi Rp  9.930-9.940 dari posisi kemarin Rp 9.910-8.920.  Pelemahan rupiah hari  ini terutama dipicu oleh sentimen eksternal yang cukup dominan. Salah satunya adalah serangkaian data ekonomi AS yang dirilis semalam menunjukkan angka yang cukup positif.

Selain itu, consumer confidence AS naik dari 74,3 menjadi 81,4 untuk Juni 2013, penjualan rumah juga naik dari 466 ribu unit menjadi 476 ribu unit untuk Mei, dan durable goods order juga naik dari 3,5% menjadi 3,6% untuk Juni. Data-data tersebut menegaskan ekspektasi pasar bahwa The Fed sedang bersiap mengurangi stimulus moneternya dalam waktu dekat.  Sepanjang perdagangan, rupiah mencapai level terlemahnya  Rp 9.935 setelah mencapai level terkuatnya Rp  9.915 per dolar AS dari posisi pembukaan di level terkuatnya itu.

Terlebih,  data-data tersebut dirilis jelang pengumuman Produk Domestik Bruto (PDB) AS kuartal I-2013 untuk sesi final nanti malam.  Pasar akan terus menyesuaikan ekspektasi penarikan stimulus moneter AS sesuai dengan perkembangan data ekonominya.  Yang jadi kata kunci, adalah pernyataan Gubernur The Fed Ben Bernanke pekan lalu bahwa The Fed bisa mengurangi stimulus jika kondisi ekonomi membaik sesuai dengan perkiraan bank sentral.  Jika data-data ekonomi AS membaik, ekspektasi pengurangan stimulus juga semakin kuat.

Di sisi lain, jika ada data AS yang memburuk, ekspektasi itu pun berkurang.  Ini akan terus terulang hingga pertemuan The Fed berikutnya.  Data-data AS semalam memang belum cukup untuk pencabutan stimulus tapi membuat pasar khawatir dengan pengurangan stimulus.  Sebab, ada peluang paling cepat The Fed akan mengurangi stimulus pada pertemuan September 2013.

Jika stimulus berkurang, sokongan  rally bursa saham juga berkurang.  Meskipun pengurangan stimulus itu seiring dengan membaiknya ekonomi AS. Apalagi, ada juga sebagian kalangan yang masih meragukan apakah momentum pemulihan ekonomi AS dapat berkelanjutan sehingga mengharapkan berlanjutnya stimulus.

Selain faktor AS, pelemahan rupiah juga dipicu oleh komentar dari Gubernur European Central Bank (ECB) Mario Draghi kemarin yang tidak begitu positif.  Draghi menyatakan, lemahnya outlook ekonomi zona euro sehingga masih ada peluang pelonggaran moneter lebih lanjut dari Bank Sentral Eropa.  Outlook ekonomi zona euro saat ini, masih menjamin kebijakan moneter longgar dan kebijakan Outright Monetary Transactions (OMT) masih dibutuhkan dan berperan penting untuk menjaga stabilitas ekonomi zona euro.

Akhirnya,  dolar AS hanya melemah tipis terhadap mayoritas mata uang utama tapi menguat terhadap euro. Indeks dolar AS melemah ke 82,61 dari sebelumnya 82,62.  Terhadap euro, dolar AS ditransaksikan menguat ke USD 1,3073 dari sebelumnya USD 1,3081 per euro. [geng]
Sugeng Riyadi 26 Jun, 2013

-
Source: http://financeroll.co.id/news/77762/rabu-sore-rupiah-ditutup-melemah-di-level-rp-9-930-usd
Read more...
Monday, 1 July 2013

Euro Terpantau Menguat

0 komentar
Euro Terpantau MenguatFinanceroll - Pada perdagangan valuta asing hari Senin(1/7), euro telah menguat terhadap dolar AS. Menguatnya euro masih dibatasi ditengah perkiraan bahwa Federal Reserve akan memulai perancangan ulang pada program pembelian obligasinya.

Permintaan dolar tetap dilanjutkan ketika Federal  Reserve akan memulai merancang ulang program pembelian obligasinya sebesar $85 milyar per bulan. Sedangkan para investor tengah menunggu hasil data nonfarm payroll AS pada Jumat mendatang.

Menjelang perdagangan di sesi Eropa hari ini, pasangan EUR/USD sentuh level 1.3034 yang kemudian dikonsolidasikan menguat 0.16% di level 1.3030. Pasangan mata uang tersebut cenderung menemukan level support di level 1.2983 dan level resistance di level 1.3086. Sedangkan euro juga lanjutkan penguatan terhadap poundsterling dan yen, dengan pasangan EUR/GBP menguat 0.05% di level 0.8558 dan EUR/JPY menguat 0.45% di level 129.57.
Aditya Arief 01 Jul, 2013

-
Source: http://financeroll.co.id/news/78046/euro-terpantau-menguat
Read more...
Tuesday, 2 July 2013

Euro Terpantau Melemah Terhadap Dolar AS dan Yen

0 komentar
Euro Terpantau Melemah Terhadap Dolar AS dan YenFinanceroll - Pada perdagangan valuta asing di hari Selasa(2/7), euro telah melemah ke posisi rendah terhadap dolar AS, ketika para investor tetap berhati-hati menjelang pertemuan Bank Sentral Eropa pada hari Kamis besok dan dirilisnya data resmi nonfarm payrolls AS pada hari Jumat.

Pada mata uang tunggal kembali mendapat tekanan setelah Perdana Mentri Portugal, Vitor Gaspar mengundurkan diri pada hari Senin malam kemarin, setelah angkar terbaru menunjukkan bahwa terjadinya defisit yang meluas pada anggaran negara di kuartal pertama tahun 2013. Sedangkan untuk imbal hasil program pembelian obligasi Portugal dalam 10 tahun telah naik menjadi 6.51% pada hari Selasa, dari 6.4% di hari Senin.

Selama berlangsungnya perdagangan di sesi Eropa hari ini, pasangan EUR/USD sentuh level 1.3018 yang kemudian dikonsolidasikan melemah 0.31% di level 1.3021. Pasangan mata uang tersebut cenderung menemukan level support di level 1.2990 dan level resistance di level 1.3077. Sementara itu, euro hanya alami sedikit penguatan terhadap poundsterling dan melemah terhadap yen, dengan pasangan EUR/GBP menguat 0.02% di level 0.8584 dan EUR/JPY melemah 0.11% di level 130.01.
Aditya Arief 02 Jul, 2013

-
Source: http://financeroll.co.id/news/78248/euro-terpantau-melemah-terhadap-dolar-as-dan-yen
Read more...

Poundsterling Terpantau Melemah Terhadap Dolar, Namun Stabil Terhadap Euro

0 komentar
Poundsterling Terpantau Melemah Terhadap Dolar, Namun Stabil Terhadap EuroFinanceroll - Pada perdagangan valuta asing di hari Selasa(2/7), poundsterling telah melemah ke level rendah 1 bulan terhadap dolar AS ketika para investor tetap berhati-hati menjelang pertemuan Bank Sentral Eropa pada hari Kamis besok dan dirilisnya data resmi nonfarm payrolls AS pada hari Jumat.

Dolar AS tetap mendapat dukungan setelah dirilisnya data bisnis manufaktur AS yang kuat sehingga mendorong optimisme atas prospek ekonomi AS ke depannya. Berdasarkan laporan tersebut, ISM manufaktur PMI AS naik menjadi 50.9 pada bulan Juni 2013 ini.

Sedangkan berdasarkan laporan yang dirilis oleh Markit/CIPS hari ini, data tersebut menunjukkan bahwa konstruksi Inggris telah naik menjadi 51.0 di bulan Juni, namun hasil tersebut masih di bawah perkiraan pasar dengan kenaikan sebesar 51.1.

Selama berlangsungnya perdagangan di sesi Eropa hari ini, pasangan GBP/USD sentuh level 1.5137 yang kemudian dikonsolidasikan melemah 0.45% di level 1.5136. Pasangan mata uang tersebut cenderung menemukan level support di level 1.5085 dan level resistance di level 1.5236. Sementara itu, poundsterling terpantau stabil terhadap euro, dengan pasangan EUR/GBP sedikit menguat 0.02% di level 0.8584.
Aditya Arief 02 Jul, 2013

-
Source: http://financeroll.co.id/news/78250/poundsterling-terpantau-melemah-terhadap-dolar-namun-stabil-terhadap-euro
Read more...
Saturday, 6 July 2013

Sentimen Negatif Masih Dominan, Pasar Domestik Bergerak Variatif

0 komentar
Sentimen Negatif Masih Dominan, Pasar Domestik Bergerak VariatifFinanceroll - Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat tapi rupiah sebaliknya. Pasar merespons kebijakan moneter longgar ECB-BoE dan mencemaskan risiko politik di Portugal, Italia, dan Yunani.  Melandainya pergerakan rupiah akhir pekan ini dipicu oleh pasar yang sedikit waspada menjelang rilis data non-farm payrolls dan tingkat pengangguran AS nanti malam.

Karena itu, nuansa yang terjadi di pasar adalah penguatan dolar AS dan jadi tekanan negatif bagi rupiah.  Kondisi itu, kata Firman, terjadi setelah kemarin malam European Central Bank (ECB) dan Bank of England (BoE) memberikan komitmen untuk tetap menjaga kebijakan moneter longgarnya.  Sepanjang perdagangan, rupiah mencapai level terlemahnya Rp 9.945 dengan level terkuat  Rp 9.930 dari posisi pembukaan di Rp  9.938 terhadap dolar AS.

Kurs rupiah  terhadap dolar AS di pasar spot valas antar bank Jakarta, Jumat (5/7) ditutup melemah 5 poin (0,05%) ke posisi Rp 9.940-9.945 dari posisi kemarin Rp 9.935-9.940.  Lebih jauh Firman menjelaskan, pertemuan ECB semalam berbeda dari pertemuan sebelumnya. Sebab, ECB mengatakan, kebijakan moneter longgar akan dijalankan untuk sementara waktu dan ini tentunya akan menegaskan komitmen bahwa bank sentral mungkin akan mempertahankan tingkat suku bunga rendah dalam beberapa pertemuan mendatang.

Selain itu, pelemahan rupiah juga dipicu oleh pasar yang juga mencemaskan risiko politik yang berkembang di Portugal dan Italia.   Lonjakan yield obligasi tidak hanya terjadi di Portugal tapi juga pada negara-negara anggota zona euro lainnya.  Dari Portugal, pasar mengkhawatirkan keutuhan koalisi pemerintahan setelah salah satu pimpinan partai koalisi mengundurkan diri dari kabinet.  Pasar mengkhawatirkan koalisi pemerintahan itu tidak akan bertahan lama.

Jika koalisi tidak bertahan, mau tidak mau, Portugal harus mengusulkan pemilu dini. Jika ini terjadi, tentu akan mempersulit Portugal mengikuti program bailout yang dijadwalkan akhir tahun ini.  Akibatnya, yield obligasi Portugal mencapai level krusial 7,04% untuk tenor 10 tahun. Level yield ini tidak bagus untuk kesehatan keuangan Portugal.

Akhirnya, dolar AS menguat terhadap mayoritas mata uang utama termasuk terhadap euro.  Indeks dolar AS menguat ke 83,93 dari sebelumnya 83,77.  Terhadap euro, dolar AS ditransaksikan menguat ke USD 1,2890 dari posisi sebelumnya USD 1,2910 per euro.

Dari bursa saham, IHSG sebenarnya masih cari-cari arah sehingga belum memperlihatkan pola pergerakan yang jelas.  Pada perdagangan Jumat (5/7) IHSG ditutup menguat 20,87 poin (0,46%) ke posisi 4.602,807. Intraday terendah 4.581,888 dan tertinggi 4.647,272.  Sebab, dalam sebulan teakhir, dana asing yang keluar dalam angka yang signifikan. Apalagi, indeks juga sudah terkoreksi dalam.  Kondisi ini menjadi sinyal lampu kuning bagi IHSG.

Dari pergerakan dari IHSG sendiri yang melemah dalam sebulan terakhir dan aliran dana asing yang keluar harus membuat sedikit waspada bagi investor.  Sebab, dalam jangka pendek maupun menengah, koreksi IHSG bisa berlanjut ke arah 4.000.  Dengan pelemahan ini, membuat beberapa harga saham menjadi normal dibandingkan sebelumnya yang berada di atas valuasi fundamentalnya.

Sementara itu, penguatan indeks Jumat (5/7) ini,  lebih dipicu oleh pergerakan bursa regional yang cenderung menguat dalam dua hari terakhir.  Pasar terpengaruh positif oleh data-data tenaga kerja AS dan European Central Bank (ECB) yang mempertahankan tingkat suku bunganya dalam periode yang lebih lama.  Tapi, rilis data tingkat pengangguran AS nanti malam baru bisa berpengaruh awal pekan depan.  [geng]
Sugeng Riyadi 06 Jul, 2013

-
Source: http://financeroll.co.id/news/78656/sentimen-negatif-masih-dominan-pasar-domestik-bergerak-variatif
Read more...
Tuesday, 25 June 2013

Swiss Franc Terpantau Melemah Terhadap Dolar AS dan Euro

0 komentar
Swiss Franc Terpantau Melemah Terhadap Dolar AS dan EuroFinanceroll - Pada perdagangan valuta asing di hari Selasa(25/6), dolar AS sedikit menguat terhadap Swiss franc, karena para investor tengah berfokus pada dirilisnya data ekonomi AS hari ini.
Dolar AS mendapat dukungan setelah Ketua Federal Reserve AS, Ben Bernanke mengatakan bahwa banks sentral sudah bisa memulai penurunan pada program pembelian obligasi tersebut pada akhir tahun 2013, disusul dengan menghilangkan program tersebut pada pertengehan 2014 mendatang. Sementara itu, data resmi ekonomi AS yang akan dirilis pada hari ini adalah pesanan barang tahan lama, disusul dengan indeks kepercayaan konsumen dan indeks penjualan rumah baru.
Selama berlangsungnya sesi perdagangan saham di bursa Eropa hari ini, pasangan USD/CHF sentuh level 0.9350 yang kemudian dikonsolidasikan sedikit menguat 0.12% di level 0.9347. Pada pasangan mata uang tersebut cenderung menemukan level support di level 0.9242 dan level resistance di level 0.9418. Sedangkan Swissie telah melemah terhadap euro, dengan pasangan EUR/CHF menguat 0.12% di level 1.2257.
Hilman Pradana 25 Jun, 2013

-
Source: http://financeroll.co.id/news/77615/swiss-franc-terpantau-melemah-terhadap-dolar-as-dan-euro
Read more...
Friday, 28 June 2013

Poundsterling Melemah Terhadap Dolar dan Euro

0 komentar
Poundsterling Melemah Terhadap Dolar dan EuroFinanceroll - Pada perdagangan valuta asing hari Jumat(28/6), poundsterling telah melemah terhadap dolar AS meski telah dirilisnya data positif kepercayaan konsumen Inggris, ditengah ketidakpastiannya atas masa depan program stimulus Federal Reserve yang terus mendukung mata uang dolar.

Sebuah laporan yang dirilis pada hari ini, menunjukkan bahwa indeks kepercayaan konsumen Inggris naik menjadi -21 pada bulan Juni, dari -22 pada bulan Mei 2013. Sedangkan pada data terpisah lainnya, menunjukkan bahwa harga inflasi Inggris naik 0.3% pada bulan Juni, setelah naik sebesar 0.4% di bulan Mei.
Selama berlangsungnya pedagangan di sesi Eropa hari ini, pasangan GBP/USD sempat menyentuh level 1.5234 yang kemudian dikonsolidasikan melemah dengan diperdagangkan di level 1.5246. Pasangan mata uang tersebut cenderung menemukan level support di level 1.5196 dan level resistance di level 1.5347. Sedangkan poundsterling terhadap euro telah melemah, dengan pasangan EUR/GBP telah diperdagangkan di level 0.8555.
Aditya Arief 28 Jun, 2013

-
Source: http://financeroll.co.id/news/77902/poundsterling-melemah-terhadap-dolar-dan-euro
Read more...
Wednesday, 26 June 2013

Swiss Franc melemah Terhadap Dolar, Namun Menguat Terhadap Euro

0 komentar
Swiss Franc melemah Terhadap Dolar, Namun Menguat Terhadap EuroFinanceroll - Pada perdagangan valuta asing di hari Rabu(26/6), dolar AS telah menguat terhadap Swiss franc, menjelang data final produk domestik bruto AS hari ini.
Permintaan untuk greenback telah didukung oleh data yang dirilis pada hari Selasa kemarin, dimana kepercayaan konsumen AS meningkat ke level tertinggi sejak Januari 2008, sedangakan pada laporan terpisah lainnya penjualan rumah baru AS telah naik di bulan Mei dan pesanan barang tahan lama AS juga secara tidak terduga meningkat pada bulan Mei.
Selama berlangsungnya perdagangan di sesi Eropa hari ini, pasangan USD/CHF sentuh level 0.9398 yang kemudian pasangan tersebut dikonsolidasikan menguat 0.15% di level 0.9396. Pada pasangan mata uang tersebut cenderung menemukan level support di level 0.9320 dan level resistance di level 0.9494. Sedangkan Swissie telah menguat terhadap euro, dengan pasangan EUR/CHF melemah 0.10% di level 1.2260.
Aditya Arief 26 Jun, 2013

-
Source: http://financeroll.co.id/news/77759/swiss-franc-melemah-terhadap-dolar-namun-menguat-terhadap-euro
Read more...

Menjelang US Final GDP, Dollar Masih Tangguh!

0 komentar
Sempat mandeg saat publikasi data USD Core Durable Goods Orders, yang naik 0.7% dari sebelumnya 1.5%. Namun, selepas rilisan data  USD CB Consumer Confidence (naik 81.4 dari 74.3) disusul oleh USD New Home Sales ( naik 476.000 dari 466.000) dollar AS sukses menegaskan akselerasinya terhadap rival karensi utama lainnya, terutama terhadap euro, sterling dan swissie.

Potret cerah yang disajikan ketiga data vital tersebut, setidaknya memercikkan harapan bahwa komitmen Bernanke untuk mengurangi program stimulasi moneter via pembelian obligasi kian menyeruak.

Di sisi lain, depresiasi euro terhadap dollar selama enam hari terakhir, kemarin kian mencolok menyusul komentar Presiden Bank Sentral Eropa, Mario Draghi yang menandaskan bahwa kebijakan moneter akan tetap akomodatif, sehingga relative meredupkan daya tarik asset-asset yang berdenominasi euro.

Sementara, mata uang Inggris juga terpuruk versus dollar  saat  Menteri Keuangan Inggris, George Osborne bersiap untuk berpresentasi mengenai tinjauan belanja (negara) di depan Parlemen.

Pada jam 19.30 WIB malam ini, para trader dan investor akan tertuju atensinya pada publikasi data penting dari Washington, yaitu USD Final GDP q/q yang diperkirakan naik 2.4% sama dengan sebelumnya.

Karena GDP merupakan ukuran terluas terhadap aktivitas ekonomi dan merupakan parameter utama dalam mendeteksi kebugaran ekonomi, maka hasilnya akan berdampak langsung pada arah pergerakan mata uang bersangkutan, terutama berkenaan dengan persepsi pasar atas komitmen Bernanke dalam upaya mengurangi program QE, jika kondisi ekonomi membaik.

Pabila data tersebut setidaknya naik sama dengan kuartal sebelumnya, 2.4%, maka dollar berpeluang untuk meneruskan jejak naik terhadap rival karensi utama lainnya, apalagi jika kenaikannya melebihi sebelumnya.

Jika hasilnya melenceng jauh dari sebelumnya, maka laju penguatan dollar rentan untuk tersendat, atau bisa jadi akan mengalami pukulan balik cukup telak dari rival karensi utama lainnya.

Faktor penentu lain untuk mengamati pergerakan dollar versus mata uang utama lainnya adalah kabar dari pertemuan ECOFIN sepanjang hari ini, karena bisa secara mendadak mengejutkan pasar lewat komentar para pejabat keuangan  Eurozone terkait kondisi ekonomi saat ini, sehingga bisa secara tiba-tiba memporak-porandakan performa dollar atau pun euro.
Arief Sofyandi 26 Jun, 2013

-
Source: http://financeroll.co.id/expert-comment/77764/menjelang-us-final-gdp-dollar-masih-tangguh
Read more...
Tuesday, 2 July 2013

Sentimen Internal Muncul Bervariasi, Pasar Domestik Melambat

0 komentar
Sentimen  Internal Muncul Bervariasi, Pasar Domestik MelambatFinanceroll - Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan  (IHSG)  melemah tapi rupiah masih stagnan. Pasar merespons variatifnya data-data ekonomi yang dirilis di dalam negeri.  Stagnannya penutupan rupiah awal pekan ini salah satunya dipicu oleh rilis inflasi Indonesia untuk Juni 2013 yang angknya di bawah estimasi.  Nilai  rupiah bergerak datar setelah adanya rilis data inflasi yang ternyata turun ke bawah estimasi.

Inflasi tahunan di level 5,90% dari prediksi 6,10%. Inflasi bulan Juni juga turun ke bawah estimasi 1,20% menjadi 1%.  Sepanjang perdagangan, rupiah mencapai level terkuatnya Rp 9.919 setelah mencapai level terlemahnya Rp 9.935 dari posisi pembukaan  Rp 9.925 per dolar AS.  Kurs rupiah terhadap dolar AS di pasar spot valas antar bank Jakarta, Senin (1/7) ditutup bergeming di  Rp 9.920-9.935 dibandingkan posisi akhir pekan lalu.

Begitu juga dengan pertumbuhan ekspor Indonesia yang membaik menjadi -4,49%, atau lebih rendah dari prediksi -9,60%. Di sisi lain, Indeks Manufaktur PMI Indonesia versi HSBC dirilis 51 atau menurun dari sebelumnya 51,6.  Variatifnya data-data fundamental Indonesia menyebabkan rupiah tidak bergerak banyak dan berakhir stagnan.

Pada saat yang sama,  data-data yang dirilis di Jepang dan Eropa cukup positif sehingga seharusnya bisa memperkuat rupiah.  Sebab, data-data Jepang dan Eropa itu menopang rally mata uang non-dolar AS untuk hari pertama pekan ini.  Data Indeks Sentimen Tankan di sektor manufaktur PMI Jepang meningkat dibandingkan bulan sebelumnya. Dari Eropa juga data-data yang dirilis menunjukkan perbaikan perlahan pada ekonomi kawasan Eropa.

Hanya saja, data China menunjukkan perlambatan aktivitas manufaktur. Indeks manufaktur versi HSBC di level 48,2 dibandingkan sebelumnya 48,3.  Sedangkan indeks manufaktur versi pemerintah China dirilis di level 50,1 atau lebih rendah dari publikasi sebelumnya 50,8.  Akibatnya, dolar AS sebenarnya melemah. Negatifnya data China seharusnya bisa diimbangi oleh positifnya data Jepang dan Eropa.  Tapi, karena data dalam negeri masih variatif menyebabkan penguatan rupiah jadi terbatas dan berakhir stagnan.

Akhirnya,  dolar AS melemah terhadap mayoritas mata uang utama tapi stagnan terhadap euro.  Indeks dolar AS melemah 0,12% ke 83,27 dari sebelumnya 83,41.  Terhadap euro, dolar AS ditransaksikan stagnan di level USD 1,3050 per euro.

Dari bursa saham, di bursa regional tidak terlihat adanya masalah.  Dow Jones Futures plus.  Strait Times juga masih running jauh di atas support 3.138. Tidak terlihat adanya signal negatif.  IHSG sore kemarin malah sudah mengayun lumayan dalam.  IHSG yang tadinya dekat level tertingginya, malah menguji level terendahnya di sekitar support 4.740–4.770 lagi.  Pada perdagangan Senin (1/7)  IHSG ditutup melemah 41,44 poin (0,86%) ke posisi 4.777,452. Intraday terendah 4.747,975 dan tertinggi 4.815,725. Investor asing kembali net sell hingga Rp 301,3 miliar. [geng]
Sugeng Riyadi 02 Jul, 2013

-
Source: http://financeroll.co.id/news/78129/sentimen-internal-muncul-bervariasi-pasar-domestik-melambat
Read more...
Friday, 28 June 2013

Dana Asing Mulai Mengalir Masuk, Pasar Domestik Bergerak Positif

0 komentar
Dana Asing Mulai Mengalir Masuk, Pasar Domestik Bergerak PositifFinanceroll - Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih menguat dan rupiah ditutup stagnan. Pasar merespons intervensi verbal dari para petinggi bank sentral AS, the Fed terkait penarikan stimulus moneter.  Reli dolar AS dipicu oleh pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) beberpa waktu lalu yang memicu ketakutan pasar atas penarikan stimulus oleh The Fed pada tahun ini.

Spekulasi terhadap bullish dolar AS dan bearish untuk mata uang emerging market, tampak mereda setelah adanya intervensi verbal yang dilakukan oleh beberapa pejabat The Fed.  Karena itu, rupiah ditutup pada level terkuatnya 9.920 setelah mencapai level terlemhanya Rp 9.931 dari posisi pembukaan 9.930 per dolar AS.  Kurs rupiah terhadap dolar AS di pasar spot valas antar bank Jakarta, Kamis (27/6) ditutup stagnan di level  Rp 9.920-9.930.
Salah satu intervensi verbal datang dari Narayana Kocherlakota, president of the Federal Reserve Bank of Minneapolis yang menyatakan, bahwa penarikan stimulus masih cukup panjang dibandingkan dengan apa yang diekspektasikan para pelaku pasar sejauh ini.  Pasar masih menanti pernyataan dari petinggi The Fed yang lain seperti William Dudley, President of the Federal Reserve Bank of New York dan anggota dewan gubernur The Fed, Jerome Powell.  Keduanya sangat penting karena merupakan anggota voter FOMC.
Dua petinggi The Fed tersebut, diharapkan bisa memberikan kejelasan mengenai ekspektasi arah kebijakan FOMC selanjutnya.  Apalagi, dolar AS juga mendapat tekanan negatif setelah rilis Produk Domestik Bruto (PDB) AS semalam untuk versi final yang turuk jauh di bawah ekspektasi 2,4% menjadi 1,8% untuk kuartal I-2013.  Ini juga meredakan bullish dolar AS. Sebab, buruknya data AS memicu stimulus moneter The Fed masih dibutuhkan sehingga diperpanjang. Efeknya menjadi negatif untuk dolar AS.
Lalu, dari China terdapat beberapa laporan keuangan emiten yang menunjukkan angka cukup positif.  Kondisi ini sedikit memberi topangan terhadap daya tarik mata uang emerging market termasuk rupiah.  Alhasil, dolar AS menguat terhadap mayoritas mata uang utama termasuk terhadap euro.  Indeks dolar AS melemah ke 82,90 dari sebelumnya 82,95.  Terhadap euro, dolar AS ditransaksikan melemah ke USD 1,3027 dari sebelumnya USD 1,3006 per euro.
Dari bursa saham, sejak pukul 14.50 WIB dia sudah mulai memberikan peringatan.   Sebab, Hang Seng tadi pagi sudah sempat menguji gap di 20.703–20.896.  Harusnya, untuk bikin signal positif, HSI harus tutup di atas batas bawah 20.703 itu.
Kondisi BEI sebenarnya sudah bisa dibilang bagus.  Dana asin terlihat mulai mengalir lagi ke pasar domestik.  Hingga sore hari ini, posisi net buy asing masih bisa bertahan di atas level psikologis Rp 250 miliar. Dana asing sepertinya sudah mulai mengalir masuk seiring dengan langkah Moody's Investor Service yang menaikkan outlook peringkat surat utang Indonesia.
Pada perdagangan Kamis (27/6) IHSG ditutup menguat 88,02 poin (1,92%) ke posisi 4.675,749. Intraday tertinggi Rp 4.732,985 dan terendah Rp 4.644,036. Investor asing mencatatkan net buy (aksi beli bersih) senilai Rp 48,7 miliar. [geng]
Sugeng Riyadi 28 Jun, 2013

-
Source: http://financeroll.co.id/news/77851/dana-asing-mulai-mengalir-masuk-pasar-domestik-bergerak-positif
Read more...
Saturday, 20 July 2013

Pasca Testimoni Gubernur The Fed, Pasar Domestik Masih Melambat

0 komentar
Pasca Testimoni Gubernur The Fed, Pasar Domestik Masih Melambat[NMForex] Financeroll - Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih bertahan di teritori positif tapi rupiah terus melemah. Pasar melihat membaiknya ekonomi AS kontras dengan kondisi perekonomian Indonesia. Pelemahan rupiah akhir pekan ini terutama dipicu oleh akselerasi pertumbuhan ekonomi AS. Akibatnya, dolar AS masih kuat sehingga jadi tekanan negatif bagi rupiah.

Kondisi itu, terjadi setelah testimoni Gubernur The Fed Ben Bernanke kemarin. Karena itu, sepanjang perdagangan, rupiah mencapai level terlemahnya Rp 10.100 setelah mencapai level terkuatnya Rp 10.060 dari posisi pembukaan di level terkuatnya itu terhadap dolar AS.

Kurs rupiah terhadap dolar AS di pasar spot valas antar bank Jakarta, Jumat (19/7) ditutup melemah 15 poin (0,l4%) ke Rp 10.070-10.085 dari posisi kemarin Rp 10.055-10.065. Testimoni Bernanke, disertai dengan rilis data ekonomi AS yang menunjukkan akselerasi pertumbuhan ekonomi yang melampaui atau kontras dengan kondisi fundamental ekonomi Indonesia. Semalam dirilis data unemployment claims AS yang sangat positif di 334 ribu dari sebelumnya 358 ribu dan prediksi 344 ribu. Ini menunjukkan percepatan pertumbuhan pada pasar tenaga kerja AS.

Selain itu, indeks manufaktur AS kawasan Philadelpia juga mengindikasikan perbaikan. Angkanya naik ke 19,8 melampaui estimasi 8,5 dari publikasi sebelumnya 12,5. Dua data tersebut mengindikasikan kesehatan ekonomi AS yang semakin positif. Bernanke mempertegas keinginannya untuk mengundur pengurangan stimulus. Tapi, meski stimulus dikurangi, tingkat suku bunga nol (0%) masih tetap diperpanjang hingga 2015. Pasar tetap saja menginterpretasikannya sebagai awal pengetatan moneter AS yang diantisipasi lebih awal.

The Fed sendiri, untuk pengurangan stimulus, menggunakan indikator inflasi dan tingkat pengangguran. The Fed menargetkan inflasi 2% dan tenaga kerja mendekati 6,5% hingga 5%. Pengurangan stimulus The Fed sebenarnya masih tergantung data ekonomi. Pasar tetap menginterpretasi bahwa laju ekonomi AS akan cepat pulih dan The Fed akan memulai siklus pengetatan moneternya cepat atau lambat. Akibatnya, secara keseluruhan jadi net positive untuk dolar AS.

Akhirnya, rupiah melemah meski dolar AS juga mengalami koreksi teknikal terhadap mayoritas mata uang utama termasuk terhadap euro. Indeks dolar AS melemah 0,20% ke 82,79 dari sebelumnya 82,94. Terhadap euro, dolar AS ditransaksikan melemah ke USD 1,3130 dari sebelumnya USD 1,3110 per euro.

Dari bursa saham, koreksi indeks Nikkei memang berhasil membalik sentimen pasar. Padahal, penyebabnya hanya masalah internal mereka sendiri yaitu Jepang memasuki masa pra-pemilu. indeks Hang Seng mengalami kenaikan. Sayangnya, sinyal dari indeks tersebut adalah netral karena gagal tutup di atas resistance Rp 21.400.

IHSG sejak pukul 15.45 WIB sudah terlihat tidak punya peluang tutup di atas resistance 4.750. Pada perdagangan Jumat (19/7) IHSG ditutup menguat tipis 3,98 poin (0,08%) ke posisi 4.724,411. Intraday terendah 4.706,469 dan tertinggi 4.740,058. [geng]
Sugeng Riyadi 20 Jul, 2013

-
Source: http://financeroll.co.id/news/79936/pasca-testimoni-gubernur-the-fed-pasar-domestik-masih-melambat
Read more...
Wednesday, 26 June 2013

Merespon Pengurangan Stimulus The Fed, Pasar Domestik Masih Tertekan

0 komentar
Merespon Pengurangan Stimulus The Fed, Pasar Domestik Masih Tertekan  Financeroll - Pergerakan  Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Selasa (25/6) masih tertinggal di zona negatif sedangkan rupiah ditutup stagnan.
Pasar dinilai berlebihan atas pemangkasan stimulus dari bank sentral AS, The Fed. Kurs rupiah sempat mencapai level terlemahnya Rp 9.940 tapi kembali menguat. Kondisi ini dipicu oleh kelegaan dari pelaku pasar terhadap situasi likuiditas di China setelah adanya komentar dari pejabat resmi Pople's Bank of China (PBoC).

Selain itu, Bank Sentral China itu mengambil langkah proaktif untuk mengatasi krisis likuiditas yang dalam beberapa hari ini sempat memicu sentimen riks aversion (aksi hindar risiko) dari para investor.  Karena itu, sepanjang perdagangan setelah mencapai level terlemahnya Rp 9.940 rupiah kembali ditutup di levle terkuatnya  Rp 9.925 dari posisi pembukaan Rp 9.930 per dolar AS.
Tercatat kurs rupiah  terhadap dolar AS di pasar spot valas antar bank Jakarta, Selasa (24/6) ditutup stagnan di level 9.925-9.935.  PBoC memberikan pernyataan bahwa bank sentral akan menuntun tingkat suku bunga ke kisaran yang lebih reasonable.  Hanya saja, komentar tersebut cukup memberikan kelegaan.
Sebab, komentar tersebut mengindikasikan adanya potensi berakhirnya kekhancuran sektor kredit yang bulan Juni ini menyebabkan kecemasan sistem keuangan di China yang berimbas pada pasar aset regional lainnya.  Kisaran suku bunga akan dijaga pada level tertentu, tapi tidak disebutkan dalam kisaran berapa.  Pada awalnya, pasar khawatir krisis kenaikan suku bunga antar bank di China bakal dibiarkan sehingga memicu krisis likuiditas.  Jika krisis terjadi pada likuiditas antar bank, PBoC akan menurunkan suku bunga. Tapi, jika likuiditas hot money yang kering, suku bunga justru dinaikkan.
Selain itu, rupiah juga mendapat angin segar dari komentar The Fed. Semalam ada komentar dari Presiden Federal Reserve Dallas, Richard Fisher yang menyataan, reaksi pasar cukup berlebihan. Fisher berusaha memberikan penjelasan bahwa kondisi penarikan stimulus The Fed seiring dengan perekonomian AS yang telah membaik.
Sejauh ini, pasar mengkhawatirkan, stimulus dicabut saat ekonomi AS belum membaik sehingga terjadi revaluasi pada indeks saham. Untuk selanjutnya, pasar masih akan menunggu pidato dari tiga pejabat The Fed lainnya pada pekan ini.  Pasar akan melihat bagaimana prospek reduksi pembelian aset dan The Fed harus menjelaskan bahwa penarik stimulus membutuhkan prosse yang cukup panjang sehingga pasar akan kembali tenang.
Akhirnya  dolar AS melemah terhadap mayoritas mata uang utama termasuk terhadap euro.  Indeks dolar AS melemah 0,14% ke posisi 82,51 dari sebelumnya 82,60.  Terhadap euro, dolar AS ditransaksikan melemah ke USD 1,3134 dari sebelumnya USD 1,3122 per euro.
Di sisi lain, pada perdagangan Selasa (25/6) IHSG ditutup melemah 10,59 poin (0,24%) ke posisi 4.418,872. Intraday terendah 4.373,377 dan tertinggi 4.496,554. Investor asing mencatatkan net sell hingga Rp 1,19 triliun.  Apalagi, untuk sektor konsumsi punya katalis musiman berupa bulan puasa dan lebaran. Kalaupun turun lagi,  mungkin tidak akan terlalu dalam.
Sebab, jika dihitung sejak awal 2013, indeks sudah anjlok cukup moderat dari level tertinggi 5.251.  Kenaikan ke level 5.251, dinilai  terlalu cepat. Karena itu, lanjutnya, pasar menyesuaikan IHSG ke bawah 4.500-an saat ini, sehingga penguatan indeks menjadi make sense untuk sisa waktu 2013.
Sementara itu, dari eksternal, pasar terimbas negatif oleh The Fed yang berencana memangkas program stimulus-nya, Quantitative Easing (QE).  Karena itu, koreksi indeks belakangan ini sudah menggambarkan faktor BBM dan pengurangan QE The Fed.  Koreksi IHSG saat ini bersifat jangka menengah. Artinya, bukan koreksi kecil, tapi juga bukan koreksi yang besar. Untuk akhir 2013, menurut dia, pasar akan kembali melihat IHSG di level tertingginya yang pernah dicapai di atas 5.250.  Jadi memang, target 5.200 merupakan target akhir tahun dan sudah tercapai sehingga indeks wajar terkoreksi. [geng]
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)
Sugeng Riyadi 26 Jun, 2013

-
Source: http://financeroll.co.id/news/77656/merespon-pengurangan-stimulus-the-fed-pasar-domestik-masih-tertekan
Read more...
Thursday, 27 June 2013

Kamis Sore, Rupiah Ditutup Stagnan di Level Rp 9.920 / USD

0 komentar
Kamis Sore, Rupiah Ditutup Stagnan di Level Rp 9.920 / USDFinanceroll - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS di pasar spot valas antar bank Jakarta, Kamis (27/6) ditutup stagnan di level  Rp 9.920-9.930.  Kurs nilai tukar rupiah memasuki fase konsolidasi setelah pergerakan dolar AS terhenti dari rally-nya.  Relly dolar AS dipicu oleh pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) beberpa waktu lalu yang memicu ketakutan pasar atas penarikan stimulus oleh The Fed pada tahun ini. 

Namun, spekulasi terhadap bullish dolar AS dan bearish untuk mata uang emerging market, tampak mereda setelah adanya intervensi verbal yang dilakukan oleh beberapa pejabat The Fed.  Karena itu, rupiah ditutup pada level terkuatnya  Rp 9.920 setelah mencapai level terlemhanya  Rp 9.931 dari posisi pembukaan 9.930 per dolar AS. 

Salah satu intervensi verbal datang dari Narayana Kocherlakota, President of the Federal Reserve Bank of Minneapolis yang menyatakan, bahwa penarikan stimulus masih cukup panjang dibandingkan dengan apa yang diekspektasikan para pelaku pasar sejauh ini.  Hari ini, pasar masih mennanti pernyataan dari petinggi The Fed yang lain seperti William Dudley, President of the Federal Reserve Bank of New York dan anggota Dewan Gubernur The Fed, Jerome Powell.  Keduanya sangat penting karena merupakan anggota voter FOMC. 

Dua petinggi The Fed tersebut, diharapkan bisa memberikan kejelasan mengenai ekspektasi arah kebijakan FOMC selanjutnya.  Terlebih, dolar AS juga mendapat tekanan negatif setelah rilis Produk Domestik Bruto (PDB) AS semalam untuk versi final yang turuk jauh di bawah ekspektasi 2,4% menjadi 1,8% untuk kuartal I-2013. Ini juga meredakan bullish dolar AS.  Sebab, buruknya data AS memicu stimulus moneter The Fed masih dibutuhkan sehingga diperpanjang. Efeknya menjadi negatif untuk dolar AS. 

Lalu, dari China terdapat beberapa laporan keuangan emiten yang menunjukkan angka cukup positif.  Kondisi ini sedikit memberi topangan terhadap daya tarik mata uang emerging market termasuk rupiah.  Akhirnya,  dolar AS menguat terhadap mayoritas mata uang utama termasuk terhadap euro. Indeks dolar AS melemah ke 82,90 dari sebelumnya 82,95.  Terhadap euro, dolar AS ditransaksikan melemah ke USD 1,3027 dari sebelumnya USD 1,3006 per euro. [geng]
Sugeng Riyadi 27 Jun, 2013

-
Source: http://financeroll.co.id/news/77848/kamis-sore-rupiah-ditutup-stagnan-di-level-rp-9-920-usd
Read more...
Wednesday, 3 July 2013

Minim Sentimen Pendukung, Pasar Domestik Melemah

0 komentar
Minim Sentimen Pendukung, Pasar Domestik MelemahFinanceroll - Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)  dan rupiah serempak melemah. Pasar terkapar merespons rilis indeks manufaktur AS yang menunjukkan angka di atas ekspektasi.  Pelemahan rupiah Selasa ini salah satunya dipicu oleh laporan aktivitas manufaktur PMI AS yang naik di atas perkiraan.  Akibatnya, dolar AS menguat tajam terhadap yen Jepang sehingga rupiah terimbas negatid dan konsolidasi melemah.

Selain itu, ISM Manufacturing Index AS naik ke 50,9 di atas perkiraan 50,6 dan publikasi bulan sebelumnya 49. Construction Spending AS juga mengalami peningkatan ke 0,5% dari sebelumnya 0,1%.  Karena itu, sepanjang perdagangan, rupiah mencapai level terlemahnya 9.935 setelah mencapai level terkuatnya 9.930 per dolar AS dari posisi pembukaan di level terkuatnya itu.  Hanya saja, rekrutan tenaga kerja AS untuk sektor manufaktur justru dirilis terendah dalam empat tahun.  Tapi, tenaga kerja sektor manufaktur ini tidak berdampak terlalu banyak ke pasar.

Sebab, dalam pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) beberapa waktu lalu, Gubernur The Fed Ben Bernanke sudah meningkatkan target angka penganggurannya yang jadi syarat penarikan stimulus.  ISM Manufacturing merupakan data lampau sehingga ada optimisme para pelaku pasar sesuai dengan proyeksi The Fed terhadap kondisi angka pengangguran yang cukup rendah pada semester II-2013.  Apalagi, rendahnya tenaga kerja sektor manufaktur masih dipengaruhi oleh faktor musiman yang memicu rendahnya rekrutan tenaga kerja manufaktir pada Juni.

Akibatnya,  dolar AS menguat dan pasar optimistis menantikan data non-farm payrolls AS Jumat pekan ini.  Namun demikian,  rupiah tidak melemah dalam. Sebab, pasar juga merespons momentum jelang libur pasar AS pada Kamis (4/7) sehingga berbagai mata uang juga masih diperdagangkan dalam kisaran sempit.

Sementara itu, sentimen dari Asia, tadi pagi, Reserve Bank of Australia (RBA) mempertahankan suku bunga di level terendah 2,75%. Langkah ini sebagai upaya untuk meredakan tekanan di sektor ekspor.  Tapi, ini tidak terlalu berdampak terhadap mata uang Asia.  Sebab, nanti pasar masih harus melihat kondisi manufakturnya.

Akhirnya, dolar AS stagnan terhadap mayoritas mata uang utama tapi menguat terhadap euro.  Indeks dolar AS bergeming di 83,21. Terhadap euro, dolar AS ditransaksikan menguat ke USD 1,3043 dari sebelumnya USD 1,3060 per euro.  Dari bursa saham, posisi IHSG memang masih berputar-putar di sekitar support 4.740.  Tapi, pada akhirnya indeks gagal tutup di atas suport tersebut.

Pada perdagangan Selasa (2/7) IHSG  ditutup melemah 48,75 poin (1,02%) ke posisi 4.728,704. Intraday terendah 4.724,866 dan tertinggi 4.810,57. Investor asing mencatatkan net sell hingga Rp 363,4 miliar. [geng]
Sugeng Riyadi 03 Jul, 2013

-
Source: http://financeroll.co.id/news/78280/minim-sentimen-pendukung-pasar-domestik-melemah-2
Read more...
Saturday, 29 June 2013

Nantikan Rilis Data Inflasi, Pasar Domestik Masih Bergerak Variatif

0 komentar
Nantikan Rilis Data inflasi, Pasar Domestik Masih Bergerak VariatifFinanceroll - Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat tajam tapi rupiah justru stagnan. Padahal, semua pelaku pasar sama-sama menanti rilis inflasi Juni 2013 awal pekan depan.  Stagnannya penutupan rupiah akhir pekan ini salah satunya dipicu oleh sebagian besar pelaku pasar yang masih bersikap wait and see jelang rilis data ekonomi penting di Tanah Air awal pekan depan, Senin (1/7).

Antara lain, inflasi, pertumbuhan ekspor, dan indeks manufaktur PMI Indonesia. Sepanjang perdagangan, rupiah mencapai level terkuatnya 9.915 dengan level terlemah Rp 9.925 dari posisi pembukaan di level terkuatnya itu terhadap dolar AS.   Kurs rupiah terhadap dolar AS di pasar spot valas antar bank Jakarta, Jumat (28/6) ditutup stagnan di  Rp 9.920-9.930 dibandingkan posisi kemarin.  Inflasi Juni 2013 secara tahunan diprediksi naik dari 5,47% menjadi 6,10%.  Sedangkan inflasi bulanan, Juni 2013 diprediksi naik dari -0,03% menjadi 1,20%.
Selain itu,  pasar juga menanti laporan pertumbuhan ekspor tahunan yang diprediksi merosot dari -9,11% jadi -9,60.  Secara umum, data-data tersebut jadi sentimen negatif bagi rupiah.  Sebab, pertumbuhan ekspor yang lemah menandakan laju pertumbuhan ekonomi yang masih lemah. Sementara itu, inflasi malah meningkat yang sangat tidak disukai oleh para investor.
Meski demikian,  rupiah tidak melemah karena pasar bersikap wait and see. Dari eksternal, sentimen masih variatif di mana dolar AS cenderung stabil yang ditunjukan dengan indeks dolar AS yang mendatar 0,0%.  Dari China, pasar juga menanti awal pekan depan saat akan dirilis data indeks manufaktur China.  Kurs rupiah seharusnya tertekan karena faktor penguatan dolar AS terhadap dolar Australia dan yen Jepang. Tapi, karena pasar bersikap menanti rupiah akhirnya hanya stagnan.
Akhirnya, dolar AS ditutup stagnan terhadap mayoritas mata uang utama tapi melemah terhadap euro.  Dolar AS menguat terhadap yen Jepang dan dolar AS Australia.  Indeks dolar AS stagnan di posisi 83,16.  Terhadap euro, dolar AS ditransaksikan melemah ke USD 1,3071 dari sebelumnya USD 1,3037 per euro.
Dari bursa saham, pada perdagangan Jumat (28/6)  IHSG   ditutup menguat 143,15 poin (3,06%) ke posisi 4.818,895. Intraday tertinggi mencapai 4.818,895 dan terendah 4.721,576. Investor asing mengalami net buy sebesar Rp 486,7 miliar.  Volume perdagangan mencapai 4,5 miliar saham senilai Rp 6,4 triliun. Sebanyak 155 saham menguat, 111 saham melemah dan 102 saham stagnan. IHSG melonjak menjelang penutupan bahkan menembus level 4.800. Level tertinggi hari ini di 4.818,90 dan terendah di 4.721,58.
Penguatan tertinggi terjadi pada saham sektor manufaktur hingga 3,8 persen disusul saham sektor aneka industri 3,6 persen. Semua sektor mengalami penguatan yang terendah terjadi pada saham sektor perkebunan 0,6%. Untuk indeks LQ45 menguat 2,2 persen, indeks JII naik 2,3 persen, indeks ISSI naik 1,6%, indeks SMinfra18 menguat 1,6 persen, IDX30 naik 2,3 persen. [geng]
Sugeng Riyadi 29 Jun, 2013

-
Source: http://financeroll.co.id/news/77961/nantikan-rilis-data-inflasi-pasar-domestik-masih-bergerak-variatif
Read more...
Wednesday, 26 June 2013

Mario Draghi: Kebijakan Moneter Tidak Dapat Menciptakan Pertumbuhan Ekonomi Riil

0 komentar
Mario Draghi: Kebijakan Moneter Tidak Dapat Menciptakan Pertumbuhan Ekonomi RiilFinanceroll - Presiden Bank Sentral Eropa, Mario Draghi pada hari Rabu(26/6) di Paris, mengatakan bahwa bank sentral tidak dapat menciptakan pertumbuhan ekonomi dan tidak dapat mengatasi perusahaan yang tidak kompetitif .
"Kebijakan moneter tidak dapat menciptakan pertumbuhan ekonomi riil. Jika pertumbuhan telah terhambat karena ekonomi tidak menghasilkan cukup banyak atau karena perusahaan telah kehilangan daya saing, maka ini adalah di luar kekuasaan bank sentral untuk mengatasinya" ujar Mario Draghi dalam menyikapi anggota parlemen Paris.
Bankir teratas zona euro telah membela upaya Bank Sentral Eropa untuk mendukung perekonomian, termasuk dalam program Outright Monetary Transaction, yang mana akan melihat bank sentral dalam membeli obligasi pemerintah yang berpontensi tidak terbatas di bawah persyaratan yang ketat. Skema tersebut telah memulihkan fungsi pasar dan kepercayaan di zona euro sehinggak memantapkan pasar obligasi.
Hilman Pradana 26 Jun, 2013

-
Source: http://financeroll.co.id/news/77744/mario-draghi-kebijakan-moneter-tidak-dapat-menciptakan-pertumbuhan-ekonomi-riil
Read more...
Tuesday, 2 July 2013

Dollar Akan Diuji Data US ISM Manufacturing PMI!

0 komentar
Meski belum merubah posisi Aussie yang masih tertekan oleh dollar AS,  namun Aussie berhasil memantul naik dari level terendah sejak September 2010 di tengah spekulasi bahwa penurunan (nilai aussi) terbesar dalam satu kuartal dalam hampir lima tahun terlalu berlebihan. Faktor tersebut ditambah oleh pertaruhan yang berkembang di kalangan para partisipan forex market bahwa Bank Sentral Australia akan menyangkal pemangkasan suku bunga pada pertemuannya esok.

Sejak pembukaan sesi pasar Asia, AUDUSD nampak bergeliat menuju level  0.9205 setelah sempat menurun terrpuruk pada level low 0.9110. Tingkat volatilitas pergerakan aussie terhadap dollar AS dalam sebulan terakhir nampak menguat, karena para investor mencermati adanya tekanan tinjauan kebijakan secara lokal,  dan di AS sendiri, permintaan untuk aussie terbatas di tengah sinyal melambannya ekonomi China dan spekulasi bahwa Federal Reserve akan mengurangi paket stimulus.

Di sisi lain, performa sterling dan euro masih belum beranjak terhadap dollar dan secara general peluang untuk terperosok lagi masih terbuka, terutama jika publikasi data indikator ekonomi AS yang berkualifikasi sangat sensitive, yaitu ISM Manufacturing PMI, tercatat melebihi ekspektasi.

USD ISM Manufacturing PMI akan diumumkan pada jam 21.00 WIB malam ini, dengan perkiraan 50.6 dari sebelumnya 49.0. Di atas 50 berindikasi aktivitas industry manufacturing mengalami kemajuan atau ekspansi. Di bawah 50 berindikasi mengalami penunurunan atau kontraksi.

Pabila data USD ISM Manufacturing PMI ternyata berada pada level 49.0 atau bahkan jauh di bawahnya, maka akselerasi dollar rentan untuk tersendat oleh rival karensi utama lainnya, juga akan menjadi momentum recovery bagi emas, setidaknya dalam periode pendek.  
Arief Sofyandi 01 Jul, 2013

-
Source: http://financeroll.co.id/expert-comment/78088/dollar-akan-diuji-data-us-ism-manufacturing-pmi
Read more...
 
NMForex © 2011 Main Blogger & Blogger Template & Blogging Stuff

Partner your sharing, education, business, and financial investment