Belum ada kepastian mengenai solusi dari pemerintah China terhadap pengetatan kredit. Karena itu, rupiah berpeluang melemah dalam kisaran Rp 9.975 hingga Rp 9.915 per dolar AS. Terlebih, Gubernur People's Bank of China (PBoC) Zhou Xiaochuan sendiri akhir pekan lalu memberikan komentar memang akan ada suntikan likuiditas bagi bank-bank di China tapi tidak dalam waktu dekat.
Begitu juga jika melihat data-data yang akan dirilis di dalam negeri awal Juli ini yang masih memberikan tekanan terhadap rupiah. Antara lain, inflasi dan ekspor-impor. Lalu, hari ini juga akan dirilis data indeks manufaktur China versi final HSBC. Angkanya diperkirakan masih menunjukkan perlambatan karena diprediksi masih stagnan di 48,3. Artinya, manufaktur China masih kontraksi karena di bawah level ekspansi 50.
Selain itu, pekan ini masih ada kecemasan di pasar atas pengetatan kondisi kredit di China yang dikhawatirkan berdampak buruk pada sektor manufaktur. Data China ini bisa menambah kekhawatiran adanya pelemahan permintaan komoditas regional dan ini juga memberikan tekanan negatif bagi rupiah. Sebagai informasi, kurs rupiah terhadap dolar AS di pasar spot valas antar bank Jakarta, Jumat (28/6) ditutup stagnan di Rp 9.920-9.930. [geng]
Sugeng Riyadi 01 Jul, 2013 -
Source: http://financeroll.co.id/news/77982/capital-outflow-masih-membayangi-rupiah-diperkirakan-melemah
